• Breaking News

    iklan

    Rabu, 23 Januari 2013

    askep typus


    BAB I
    KONSEP DASAR MEDIS

      1. 1.1 PENGERTIAN
        1. 1.1.1 Demam typhoid adalah penyakit menular yang bersifat akut yang ditandai dengan bakterimia atau perubahan pada system retikuloendeterlial yang bersifat difus, pembentukan mikroabses dan ulserasi nodus peyer distal ileum. (Sugeng sujianto 2002:1).
        2. 1.1.2 Thyfoid abdominalis (demam typhoid enteric fever) ialah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari 1 minggu, gangguan saluran pencernaan dan gangguan kesadaran (Ngastiya 1997:156).
        3. 1.1.3 Tifus Abdominalis ialah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran cerna dengan gejala demam lebih dari 7 hari, gangguan pada saluran cerna dan gangguan kesadaran (Kapita slekta anak jilid 2 th 2001:432).
        4. 1.1.4 Kesimpulan
    Demam thyphoid adalah penyakit menular yang bersifat akut yang biasanya mengenai pada saluran pencernaan dengan gejala demam lebih dari tujuh hari dan disertai oleh gangguan kesadaran.


      1. 1.2 ETIOLOGI
    Etiologi demam typhoid adalah salmonella thypi yang berhasil diisolasi pertama kali
      1. 1.3 Tidak ada
        1. 1.3.1 tidak ada
        2. 1.3.2 Pada masa inkubasi kuman kembali masuk ke darah menyebar ke seluruh tubuh (bakterimia sekunder) dan sebagian kuman kembali masuk ke organ tubuh terutama limfe, kandung empedu ke rongga usus dan menyebabkan infeksi di usus kemudian kuman mengeluarkan endotoksin yang mempunyai peranan yang membantu proses peradangan local dimana kuman ini berkembang.
        3. 1.3.3 Endoktosin yang dilepaskan ke dalam system sirkulasi, berperan sebagai zat pirogen oleh leokosid pada jaringan meradang selanjutnya zat pirogen yang beredar di darah mempengaruhi pusat termoregulator di hipoltalamus yang mengakibatkan timbulnya demam.
    SKEMA
    Salmonella thyposa masuk melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi berada pada usus halus.

    Menginfasi jaringan limfoid usus halus (plag player) dan jaringan limfoid mensentrika         keradangan dan nekrosis local.

    Kuman masuk darah (Bakteremia sekunder)

    Organ Res limfa dan hati kuman Hepotomegali Nyaman Nyeri
    Kuman yang tidak terfagosit Septomegali 
    berkembang biak
    Darah (Bakteri sekunder)           Nafsu makan menurun, 
    bibir kering


    Target organ usus halus Melepas endotoksin Nutrisi kurang
    terminalis dari kebutuhan











      1. 1.4 MANIFESTASI KLINIS
    Gambaran klinik demam tipoid pada anak biasanya lebih ringan dari pada orang dewasa, masa tunas 10-20 hari yang tersingkat 4 hari. Jika infeksi terjadi melalui makanan dan jika melalui minuman yang terlama 30 hari. Selama masa inkubasi mungkin ditemukan gejala prodromal yaitu perasaan tidak enak badan, lesu, nyeri kepala pusing, tidak bersemangat dan nafsu makan kurang, menyusul gambaran klinis yang sering ditemukan (Ngastiyah, 1997:156)
        1. 1.4.1 Demam
    Pada kasus yang khas demam berlangsung 3 minggu, bersifat febris remitten dan suhu berangsur-angsur naik setiap hari, biasanya menurun pada pagi hari dan meningkat lagi pada sore dan malam hari. Dalam minggu kedua pasien terus berada dalam keadaan demam pada minggu ketiga. Suhu berangsur-angsur turun dengan normal kembali pada minggu ketiga.
        1. 1.4.2 Gagguan pada saluran pencernaan.
    Pada mulut terdapat nafas berbau tidak sedap, bibir kering, pecah-pecah (rogaden), lidah tertutup selaput putih kotor (oated Tongue) ujung dan tepinya kemerahan. Jarang disertai tremor. Pada abdomen dapat ditemukan keadaan perut kembung (Meteorismus) hati dan limpa membesar disertai nyeri pada perabaan biasanya sering terjadi konstipasi tetapi juga dapat diare atau normal.

        1. 1.4.3 Gangguan kesadaran.
    Umumnya kesadaran pasien menurun walaupun tidak seberapa dalam yaitu apatis sampai samnolen. Jarang terjadi sopor, koma atau gelisa (kecuali penyakitnya berat dan terlambat mendapat pengobatan). Disamping gejala-gejala tersebut diatas mungkin pada punggung dan anggota gerak dapat ditemukan roseola yaitu bintik-bintik kemerahan karena emboli basil dalam kapiler kulit yag dapat ditemukan pada minggu pertama demam.

      1. 1.5 PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
        1. 1.5.1 Pemeriksaan Laboratorium
        2. 1.5.2 Darah tepi
    Terdapat gambaran leokapenia, limfositosis relative dan aneosinofilia pada permulaan sakit mungkin terdapat anemia dan trombositopenia ringan. Pemeriksaan darah tepi dilakukan dilaboratorium yang sederhana tetapi hasilnya berguna untuk menentukan penyakitnya dengan cepat (Adakalanya dilakukan pemeriksaan sum-sum tulang (Jarang sekali) bila hal ini dilakukan daerah yang akan di pungsi dapat pada tibia perlu dilakukan pembersihan extra kemudian dikompres dengan alcohol 70% (Ngastiyah 1997:157-158).
        1. 1.5.3 Darah untuk kultur (Biarkan emedu da widal)
    Biarkan empedu untuk menemukan salmonella thyposa dan pemeriksaan widal merupakan pemeriksaan yang dapat menentukan diagnosa Tifus abdominalis secara pasti. Pemeriksaan ini perlu dikerjakan pada waktu masuk dan setiap minggu berikutnya diperlukan darah vena sebanyak 5 cc untuk kultur atau widal. Biakan empedu hasil salmonella tyhosa dapat ditemukan dalam darah pasien pada minggu pertama sakit. Selanjutnya lebih sering ditemukan dalam urin dan feses. Dan mungkin akan tetap positif untuk waktu yang lama sedangkan pemeriksaan negativ dari contoh urin danfeses 2X berturut-turut digunakan untuk meentukan BAK pasien benar-benar sembuh. Pemeriksan widal dasar pemeriksaan adalah reaksi aglutiniasi yang terjadi bila serum pasien typhoid dicampur dengan suspensi antigen pemeriksaan yang postif ialah berarti terjadi aglotinasi.
        1. 1.5.4 Pemeriksaan isolasi kuman
    Diagnosis pasti demam tyhoid dilakukan dengan isolasi salmoella. Typosa isolasi kuman penyebab demam typoid dapat dilakukan dengan melakukan biakan dari berbagai tempat didalam tubuh. (Sugeng Sujianto 2002:1)

    kalau mau mendapatkan dokumen lebih lanjut silahkan

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Fashion

    Beauty

    Travel